Dukungan Psikososial Keluarga Korban KRI Nanggala 402 di Nganjuk

Dukungan Psikososial Keluarga Korban KRI Nanggala 402 di Nganjuk
NGANJUK (26 April 2021) - Kementerian Sosial melalui Balai Residen "Galih Pakuan" Bogor kembali melakukan pendampingan terhadap keluarga korban KRI Nanggala 402.

Setelah sebelumnya mengunjungi keluarga korban di Kota Madiun, Tim dari Balai Residen "Galih Pakuan" mengunjungi lokasi keluarga korban Roni Effendi yang beralamat di Alastuwo Banaran Wetan Bagor  Kabupaten Nganjuk. Tim berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Nganjuk terkait rencana kunjungan untuk melakukan pendampingan psikososial bagi keluarga korban yang berada di Nganjuk.

Dengan didampingi oleh tim dari Dinas Sosial Kabupaten Nganjuk, tim menuju ke alamat keluarga korban. Di alamat ini tim bertemu dengan  keluarga korban yaitu adik dan neneknya. Sedangkan istri dan orang tua korban saat ini sedang berada di Surabaya untuk menunggu informasi terkini tentang kondisi korban yang masih belum ditemukan.

Tim bertemu dengan adik korban yaitu Agnes Tiarni Putri yang memiliki kedekatan secara emosional dengan korban. "Saya sangat dekat dengan Mas Roni, usia kami terpaut 9 tahun, dari sejak kecil dia suka jagain saya," ucap Agnes sambil mengenang kebersamaannya dengan korban selama ini. Kedekatannya dengan korban inilah yang membuat Agnes sangat kehilangan dan sempat beberapa kali histeris ketika melihat foto kakaknya.

Berdasarkan informasi dari Agnes, kondisi istri korban yaitu Anisa Budi Mulia saat ini pun masih terpukul namun beruntungnya Anisa banyak mendapatkan dukungan dari keluarga besar. Korban memiliki seorang anak laki laki bernama Rayandra Alkalifi yang berusia 5 tahun. 

Tim banyak mendengarkan cerita Agnes tentang kondisi istri dan anak korban. Salah satu anggota tim yaitu Lukman Fajar Suwardiana memberikan dukungan psikososial kepada Agnes untuk mampu saling menguatkan antara anggota keluarga, terutama memberikan perhatian lebih bagi anak korban yang masih berusia 5 tahun. "Agnes pasti bisa menjadi penguat untuk bapak, ibu, mba nisa dan juga Rayandra. Saat ini mungkin Rayandra belum begitu mengerti tentang musibah yang menimpa ayahnya, untuk itu kuatlah demi mereka," ucap Lukman saat memberikan penguatan kepada Agnes.

Tim berusaha menguatkan Agnes agar dia mampu membantu orang tua dan kakak iparnya untuk bangkit dari kesedihan. Kondisi anak korban yaitu Rayandra yang sudah kehilangan sosok ayah di usianya yang masih 5 tahun menjadi perhatian pekerja sosial Yulia Herlina. Menurut Yulia, keluarga perlu memberikan perhatian lebih kepada anak korban agar dapat memberikan pengertian dan selalu mendukung terhadap tumbuh kembang Rayandra meskipun sudah kehilangan sosok ayahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Nganjuk, Iit Herliana, yang turut mendampingi tim. "Yang bisa kita lakukan adalah ikhlas, tabah dan tentunya kita bantu istri dan anak mas Roni agar selalu kuat. Rayandra agar tetap dapat menjadi anak yang ceria, tumbuh dan berkembang dengan baik," kata Iit.

Psychological first aid dilakukan oleh tim sebagai bentuk pertolongan awal bagi Agnes agar mampu menguatkan dirinya, sehingga kemudian dapat menjadi penguat juga untuk anggota keluarga korban yang lain seperti orang tua, istri dan anak korban.

Tim juga berkesempatan mengunjungi kediaman keluarga istri dari salah satu korban lain yaitu Adi Sonata, yang rumahnya ternyata berada tidak jauh dari lokasi rumah korban Roni Effendi dan masih memiliki hubungan keluarga. Di lokasi ini tim bertemu dengan kakak ipar korban. Tim turut menyampaikan belasungkawa atas peristiwa yang terjadi dan tentunya memberikan penguatan serta dukungan kepada keluarga korban agar selalu diberikan ketabahan.

Pada kesempatan ini keluarga korban dan Dinas Sosial Kabupaten Nganjuk mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Sosial yang sudah memberikan perhatian dan dukungannya, karena saat ini dukungan dan penguatan psikologis lah yang diperlukan oleh keluarga korban.

Penulis :
Humas Balai Residen "Galih Pakuan" Bogor
Editor :
Annisa YH

Bagikan :