Hunian Kolong Jembatan: Bukan Fenomena Baru, Tapi Perlu Penanganan Jitu

Hunian Kolong Jembatan: Bukan Fenomena Baru, Tapi Perlu Penanganan Jitu
JAKARTA (31 Desember 2020) - Fenomena warga kolong jembatan bukanlah fenomena baru, tapi hingga kini masih memburu penanganan jitu. Derasnya arus urbanisasi di Ibukota tak jarang jadi asal muasal fenomena sosial yang hingga kini belum rampung tertangani.

Kementerian Sosial RI dalam hal ini Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial mengamati fenomena tersebut dan terus berupaya memaksimalkan penanganan warga yang menghuni kolong jembatan.

Di awal kepemimpinannya sebagai Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini mengamati fenomena sosial di sekitar kantor tempatnya bekerja. Tepat di belakang kantor Kemensos, Kolong Jembatan Pegangsaan Jalan Matraman Luar RT. 05 RW. 03, dan RT. 03 RW. 03, Menteng, Jakarta Pusat tinggal beberapa keluarga yang tergusur oleh penduduk asli dan kontrakan yang tak terbiayai, sehingga kolong jembatan jadi pilihan terakhir untuk sekedar melindungi diri.

Lokasi ini persis di kolong jembatan yang dibawahnya terdapat aliran deras Kali Ciliwung. Mereka berada di bantaran kali ciliwung, saling berseberangan antara RT.05 RW. 03 dengan RT. 03 RW.03.

Tempat tinggal mereka di kolong jembatan ini sebagian adalah kepemilikan sendiri, sebagian lagi menyewa dari Bos Pelapak. Hanya beralas tikar dan kardus seadanya, atap yang kokoh melebihi atap baja membuat tidur mereka tak kalah nyenyak dibanding hunian lainnya saat disambangi Risma pada Senin, (28/12).

Bukan juga hitungan bulan, apalagi tahun, mereka telah bermukim puluhan tahun lamanya. Sebanyak 12 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 25 jiwa yang tinggal di kolong jembatan ini terdiri dari 1 lansia disabilitas, 3 anak dan 21 orang dewasa. Jumlah ini yang berada di RT. 05 RW. 03.

Warga ini berprofesi sebagai pemulung, pekerja tambal ban, sopir bajaj, kuli pasang tenda, polisi cepek (pengatur lalu lintas secara tidak resmi) dan pedagang asongan.

Sedangkan di RT. 03 RW. 03 terdapat 10 KK dengan 44 Jiwa terdiri dari 12 usia anak, 5 lanjut usia dan 27 usia dewasa.  Warga ini bermata pencaharian sebagai pemulung dan tukang ojek.

Pada Rabu, (30/12) Risma juga mengunjungi kolong jembatan Tol Gedong Panjang Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Pemandangan di Kolong Jembatan Tol Gedong Panjang pun jadi salah satu keresahan Risma. Sebanyak 93 KK dengan 264 jiwa tinggal disini, hunian favorit warga, tak berbiaya, namun sarat lingkungan tak sehat.

Bangunan kecil yang tersusun dari kombinasi triplek, papan kayu dan kain seadanya, dihiasi juntaian jemuran pakaian mengelilingi bangunan menjadi pemandangan khas. Bentuk ini bukan masalah bagi warga, walaupun tak bernilai estetika, asal bisa merebahkan badan itu yang paling utama. Bagi warga, deru lalu lintas menjadi instrumen penghantar tidur pulas.

Tak jarang di sekitar bangunan terdapat hasil rongsok, karena sebagian besar warganya berprofesi sebagai pemulung.

Jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak tutup telinga, tak juga menutup mata. Pihaknya sudah berulangkali berusaha menata warga kolong jembatan secara persuasif untuk bersedia dipindahkan ke rumah susun yang siap huni. "Mereka belum mau dipindahkan, karena aktivitas ekonomi mereka ada di dekat kolong jembatan itu," terang Kepala Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, Irmansyah.

Sebagian besar warga kolong jembatan  ini telah memiliki  identitas kependudukan seperti Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), maupun akta kelahiran. Sebagian besar penduduk juga telah mendapat bantuan dari pemerintah berupa sembako dari Pemerintah Kota dan Presiden, tetapi ada anak-anak yang belum mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH).

Warga kolong jembatan ini sebagian besar ada yang telah mendapatkan pendampingan dari Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) salah satunya Karya Putra Insan Mandiri (KPIM) yang berada di Jakarta Pusat dan warga kolong jembatan Tol Gedong Panjang sebagian besar telah mendapat pendampingan dari LKS Sekar.

Langsung Dekati dan Persuasi, Begini Gaya Tri Rismaharini

Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini didampingi Dirjen Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat dan Inspektur Jenderal, Dadang Iskandar menapaki satu per satu anak tangga dengan berhati-hati. Tak sungkan turun menuju kolong jembatan tempat warganya menghuni (28/12). Antara RT. 05 RW. 03 dengan RT. 03 RW. 05 berseberangan diantara Kali Ciliwung, mereka tepat berada di bantaran Kali Ciliwung. Sesekali Risma melontarkan ajakan untuk pindah dari lokasi ini. "Mari Pak, kami ingin Bapak lebih baik," Ajaknya.

Bukan tanpa alasan, selain mempengaruhi tata ruang Ibukota, tinggal di kolong jembatan sarat resiko kesehatan dan keselamatan. Terlebih letaknya di bantaran Kali Ciliwung yang setiap tahunnya tidak absen dari banjir yang melanda, aroma tak sedap dari Kali Ciliwung juga jadi atmosfer yang biasa bagi warga.

Risma menemui beberapa warga kolong jembatan. Dirinya terlibat dialog dengan salah satu warga yang masih usia anak. Ternyata anak ini belum mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sontak Risma meminta Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) yang ikut hadir mendampingi untuk mendata anak tersebut agar mendapat KIP. "Tolong didata, kita perjuangkan agar dia dapat KIP," pinta Risma pada salah satu Sakti Peksos.

Lain halnya di Kolong Tol Gedong Panjang. Risma menyusuri gang-gang untuk melihat kondisi warga dan lingkungannya. Bagaimana pun, kondisi ini akan berimbas pada masa depan anak. Perlu ada strategi peningkatan taraf kehidupan. "Saya tidak ingin anak-anak sama dengan orang tuanya. Kalau bapak ibunya pemulung, maka anaknya harus naik kelas. Anak harus bisa jadi sarjana," tegas Risma saat berdialog dengan warga kolong jembatan Tol Gedong Panjang (30/12).

Risma berencana untuk sementara mengajak warga kolong jembatan tinggal di Balai Rehabilitasi Sosial milik Kemensos. Dalam waktu dekat akan dibangun Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusanawa) yang sangat murah untuk tempat tinggal mereka. "Yang paling penting kita bisa kasih pekerjaan juga tempat tinggal yang layak," Tutur Risma.

Selama di Balai, warga tidak akan memikirkan kebutuhan dasar seperti makan, karena sudah disediakan Balai. Kemensos juga akan beri pelatihan kewirausahaan, misalnya bagaimana berjualan makanan dan keterampilan wirausaha yang lain untuk menambah penghasilan.

Hasil pendekatan dan persuasi langsung yang dilakukan Risma menemukan titik terang. Beberapa warga mau diajak pindah, hanya saja perlu waktu untuk berbenah, bermusyawarah dengan keluarga. Risma mempersilahkan warga untuk bermusyawarah dan berbenah, seraya merenungkan, menata masa depan.

Apa yang ditawarkan tak sekedar untaian kata belaka. Setelah melihat langsung kondisi warga kolong jembatan, Risma mengunjungi Balai Karya "Pangudi Luhur" Bekasi milik Kemensos RI untuk meninjau tempat tinggal sementara bagi warga kolong jembatan yang telah disiapkan.

Selain itu, Kemensos juga menyiapkan kolam lele sebagai wahana berwirausaha para warga kolong jembatan dan kolong tol. Mereka akan dilatih berwirausaha dengan beternak lele. Ini bukan kali pertama dilakukan Risma, cara ini ia adopsi kala dirinya menjabat sebagai Walikota Surabaya.

"Nanti belajar buat sambel pecel lele. Di Balai Karya "Pangudi Luhur" Bekasi akan saya buka rumah makan, yang kerja Ibu-ibu sekalian (warga kolong jembatan dan kolong tol). Jadi Bapak-bapak tetap bekerja, tidak masalah sebagai pemulung. Ibu-ibu juga punya penghasilan, jadi anak bisa sekolah," tutur Risma.

Saat itu juga, anak-anak kolong tol mendekat, antusias mendengar bisa belajar. Risma memupuk semangat anak-anak untuk sekolah. "Nanti kamu sekolah ya nak ya, nanti aku bantu carikan sekolah, carikan beasiswa. Nanti juga akan saya masukkan ke bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)," katanya.

Risma juga meminta untuk menghidupkan lahan hijau dengan tanaman hidroponik, ini bisa menjadi cara berwirausaha lainnya yang akan dikenalkan kepada warga kolong jembatan yang siap dipindah sementara ke balai.

Sumber daya Kementerian Sosial yang masih ada juga perlu difungsikan secara maksimal. Salah satu pesan dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy adalah untuk menyediakan layanan ambulans dan mobil jenazah yang siap 24 jam bagi masyarakat yang membutuhkan. Risma mengamini dan segera menindaklanjuti. "Ini sebagai bentuk layanan langsung kepada masyarakat," sebut Risma.

Walau fenomena kolong jembatan bukan hal baru di Jakarta, Risma tetap fokus pada penyelesaian masalah sosial ini. Ia mengaku pada awak media bahwa dirinya tidak melihat baru atau tidaknya masalah sosial, tapi bagaimana masalah ini segera mendapat solusi. "Masa saya tidur di tempat tidur enak, tapi mereka tidur di tempat begini," ungkapnya.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, Prayitno mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik arahan Mensos dan Dirjen Rehsos, "Kami dukung program untuk pengentasan kemiskinan warga di kolong jembatan maupun kolong tol sebagai wujud memanusiakan manusia. Kami siap menunggu arahan," tutupnya.

Penulis :
Humas Ditjen Rehabilitasi Sosial
Editor :
Annisa YH

Bagikan :