Jalani Rehabilitasi Sosial di Balai Milik Kemensos, Anak dengan Depresi Berat Kini Telah Pulih

Jalani Rehabilitasi Sosial di Balai Milik Kemensos, Anak dengan Depresi Berat Kini Telah Pulih
PEKANBARU (25 Mei 2021) - Anak berinisial AAP yang sempat didiagnosa mengalami depresi berat di Kabupaten Pelalawan beberapa bulan lalu Kini telah pulih. AAP sudah bisa berkomunikasi dengan baik dan mampu bersosialisasi dengan lingkungannya.

Sebelumnya, pada 10 Oktober 2021, AAP dikabarkan hilang selama 3 hari. Saat ditemukan, anak dalam kondisi diam dan enggan berbicara sedikitpun. Kondisi fisiknya memprihatinkan dengan pakaian yang lusuh. Dinas Sosial Kabupaten Pelalawan merekomendasikan AAP untuk mendapatkan perlindungan di Balai “Rumbai” Pekanbaru, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik Kementerian Sosial RI dengan dasar adanya dugaan kekerasan namun belum dapat dipastikan. Hal ini karena AAP yang merupakan anak yang ceria tiba-tiba menunjukkan prilaku depresi setelah menghilang dari rumah.

Perkembangan perilaku yang fluktuatif terkadang sulit dikondisikan oleh petugas balai. Adanya percobaan bunuh diri dengan meminum sabun pembersih lantai, memakan ranting, dan mencoba menyakiti diri sendiri juga dialami oleh AAP saat masa awal adaptasi di balai. AAP membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan penyesuaian diri saat bersama teman-teman dan kurang responsif dalam menanggapi petugas saat diajak berkomunikasi. 

Kepala Balai "Rumbai" di Pekanbaru, Ahmad Subarkah membenarkan perihal kondisi awal AAP tersebut. “Diperlukan adaptasi kurang lebih satu bulan agar anak mulai terbiasa dengan situasi dan kondisi yang baru. Upaya-upaya telah dilakukan baik temu bahas kasus AAP, pemeriksaan kesehatan, pemberian terapi, dan dukungan teman sebaya dalam proses adaptasi AAP,” jelasnya.

Sementara itu Pekerja Sosial Balai, Surita Triya menjelaskan Langkah strategis yang dilakukan balai dalam proses penanganan AAP. “Dalam rangka memberikan pelayanan yang tepat terhadap AAP, Balai “Rumbai” menggelar case conference bersama para professional lainnya. Pelibatan psikolog, pekerja sosial, lembaga perujuk, perawat, dan pengasuh turut menjadi rangkaian dalam kegiatan temu bahas tersebut untuk menentukan langkah asesmen, rancangan intervensi, hingga membahas keberlanjutan pasca rehabilitasi bagi anak,” ungkapnya.

Hingga saat terminasi, belum dapat diketahui penyebab pasti diagnosa depresi berat pada AAP hal ini mengingat rekomendasi psikolog klinis untuk menjauhkan dari sumber-sumber trauma termasuk salah satunya menanyakan permasalahan AAP. Hal ini berdasarkan hasil pembahasan kasus Bersama pihak perujuk dan professional bahwa sebaiknya tidak terlalu banyak orang yang menanyai AAP mengenai kasusnya agar tidak membangkitkan traumanya.

Selama proses rehabilitasi sosial di balai, AAP mendapatkan pelayanan pemeriksaan kesehatan secara rutin di Rumah Sakit Lancang Kuning yang dikhususkan pada penyakit asma yang dideritanya. Selain itu balai juga mendampingi AAP dalam pemeriksaan kesehatan mental di Rumah Sakit Jiwa Tampan untuk membantu proses pemulihan kondisi kesehatan anak baik secara fisik maupun mental. Pemberian nutrisi tambahan juga diberikan oleh petugas balai. 

Dalam prosesnya, anak mengikuti terapi fisik seperti senam rutin setiap minggu. Terapi mental spiritual seperti solat, mengaji dan belajar fikih wanita. Terapi psikososial seperti relaksasi, konseling, dan pemberian motivasi oleh pekerja sosial. Terapi keterampilan seperti menjahit dan tata rias. Selain itu, anak juga mengikuti kegiatan rekreasional seperti dinamika kelompok dan kegiatan berenang.

Pasca rehabilitasi, anak dikembalikan pada keluarga besar untuk diasuh sesuai dengan haknya. Monitoring dan evaluasi diperlukan untuk melihat sejauh mana keberhasilan penanganan dan perkembangan AAP. Balai “Rumbai” secara berkala melihat kondisi perkembangan anak. 

Rehabilitasi yang dilakukan kurang lebih 2 bulan ini menunjukkan kemajuan. Saat ini AAP dalam kondisi yang baik, sehat, dan mampu menjalankan fungsi sosialnya di masyarakat. Kegiatan rutinnya saat ini adalah sekolah dan beradaptasi di pesantren yang berdampak positif pada kemajuan perkembangan perilaku AAP. 

Saat ini anak sudah mampu beradaptasi dan sudah aktif berkomunikasi dengan teman sebayanya. Kondisi fisiknya juga semakin membaik.

Keluarga besar merasa senang dengan perubahan besar diri AAP. Paman AAP menyampaikan bahwa semoga perubahan di balai, seterusnya AAP bisa jadi lebih baik lagi, bisa sekolah lagi, jadi penerus bangsa dan keluarga,” pungkasnya.

Penulis :
Humas Rumbai Pekanbaru
Editor :
Annisa YH
Penerjemah :
Karlina Irsalyana

Bagikan :