Widyawisata Balai Anak "Antasena" Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

  • Widyawisata Balai Anak "Antasena" Terapkan Protokol Kesehatan Ketat
  • IMG-20201129-WA0017
  • IMG-20201129-WA0023
  • IMG-20201129-WA0018
MAGELANG (28 November 2020) - Balai Anak "Antasena" yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik Kementerian Sosial melaksanakan Terapi Psikososial Melalui Kegiatan Widyawisata Bagi Penerima Manfaat. Kegiatan dilaksanakan selama 4 hari dimulai tanggal 25 November dan berakhir pada 28 November 2020 dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang, terdiri dari 25 penerima manfaat dan 15 orang pendamping. Selama pelaksanaan Terapi Psikososial protokol kesehatan 3M yaitu Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak diterapkan secara ketat dan selalu dipantau oleh para pendamping.

Sebelum berangkat seluruh penerima manfaat diberikan pembekalan oleh Faisal selaku Kepala Balai Anak "Antasena" sekaligus melepas Penerima Manfaat menuju lokasi kegiatan di Banyuwangi, Jawa Timur. "Kalian manfaatkan sebaik mungkin untuk menambah wawasan dan nikmati setiap destinasi wisata yang ada di Banyuwangi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19," ujar Faisal.

Kepala Seksi Layanan Rehabilitasi Sosial Balai Anak "Antasena" Magelang, Ihsan, menyampaikan bahwa tujuan Terapi Psikososial dilaksanakan tidak didalam lingkungan balai adalah untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang kepariwisataan, menumbuhkan rasa cinta lingkungan dan rasa cinta tanah air, menuangkan hasil pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung ke dalam refleksi kehidupan sehari-hari, mengatasi kejenuhan dan memberikan suasana baru bagi penerima manfaat dalam mengikuti proses rehabilitasi sosial, meningkatkan kemampuan sosial serta penguasaan diri penerima manfaat menuju perilaku yang adaptif, produktif, partisipasif, dan rekreatif. 

Selama di Banyuwangi Penerima Manfaat mengunjungi beberapa lokasi wisata yaitu Pendopo Banyuwangi “Shaba Swagata Blambangan”, UMKM Rumah Produksi Pengolahan Ikan Ibu Emi, Air Terjun Jagir, Taman Baluran, Pantai Bangsri Banyuwangi, dan Resto Daipoeng melihat tarian gandrung Banyuwangi.

Berada di Pendopo Banyuwangi “Shaba Swagata Blambangan” penerima manfaat di berikan penjelasan mengenai filosofi bangunan.

“Bangunan paling depan adalah pendopo itu sendiri. Sebuah ruang terbuka dengan balok kayu sebagai soko guru. Kalau kita mau melihat soko utama itu ada 4. Ketika kita ada di tengah-tengah, kita melihat dalam islam itu ada empat nafsu, ada amarah atau letupan emosi, ada lawwamah yaitu sikap tidak punya pendirian, ada mulhimah yang bermakna rendah hati dan pandai menempatkan diri serta mutmainah yaitu bersifat memberi manfaat.  Dan kita tidak boleh satu napsu pun yang menonjol, harus imbang.  Keseimbangan itu ada pada kita. Di belakangnya berdiri bangunan utama yang jadi rumah tinggal bagi Bupati Banyuwangi. Bangunan bergaya kolonial itu punya teras depan dan belakang yang disebut pringgitan,” tutur Fa’at selaku Pemandu Lokal.  Diharapkan setelah mendengar penjelasan mengenai filosofi bangunan Joglo Banyuwangi Penerima manfaat dapat mengambil sisi positifnya.

Lokasi berikutnya adalah UMKM Rumah Produksi Pengolahan Ikan Ibu Emi. Disini Penerima Manfaat mempelajari berbagai macam olahan ikan laut, seperti sambal tuna, sambal ebi, sambal teri, dan olahan ikan lainnya.  Penerima manfaat juga diceritakan mengenai perjuangan awal mulanya memulai usaha ini.

"Mulai usaha pada tahun 2014, dengan fokus bahan dari ikan laut. Dalam waktu satu hari sebelum adanya COVID-19 dapat membuat varian olahan sekitar 30-40 olahan dan dengan kemasan yang berbeda. Tetapi dengan adanya COVID-19 ini turun banyak.  Tapi dalam berusaha kita tidak boleh mudah menyerah, harus ulet dan kreatif dan harus mudah beradaptasi dengan lingkungan agar kita dapat bertahan," demikian yang disampaikan Emiwati, si pemilik usaha. 

Emiwati juga menjelaskan tentang bagaimana cara memasarkan produknya sehingga dapat diterima sampai ke tangan konsumen. Dari sini diharapkan penerima manfaat dapat memiliki gambaran serta minat untuk menjadi wirausaha yang ulet dan kreatif sehingga dapat mandiri secara ekonomi di kehidupannya kedepan.

Lanjut penerima manfaat melihat dan menikmati Air Terjun Jagir. Air terjun ini terletak di Dusun Kampung Anyar, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ditempat ini penerima manfaat bermain air sepuasnya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan terus dalam pengawasan pendamping.  Sebagai penutup dan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang kepariwisataan Penerima Manfaat disuguhkan tarian gandrung, salah satu kesenian khas yang menjadi ikon Kabupaten Banyuwangi. 

Hari ketiga Penerima Manfaat menuju lokasi wisata Taman Baluran atau yang dikenal juga dengan sebutan Little Africa in Java. Di kawasan ini Penerima Manfaat diperlihatkan dengan berbagai macam vegetasi unik dan hewan-hewan yang merupakan objek konservasi utama Taman Wisata Baluran.  Tempat terakhir yang dikunjungi adalah Pantai Bangsring yang berada di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Destinasi wisata ini menjadi populer dengan adanya snorkeling. Pantai ini juga digunakan sebagai area konservasi terumbu karang. 

Salah satu penerima manfaat, F, mengatakan bahwa dirinya sangat senang dengan adanya wisata ini karena dirinya bisa pergi ke tempat yang belum pernah didatangi dan bisa melihat hewan-hewan yang sebelumnya hanya dapat dilihat di TV dan bisa belajar sambil bermain.

Selama berada di 4 lokasi terakhir penerima manfaat diberikan waktu untuk bersenang-senang dan menikmati keindahan dan fasilitas yang ada di tempat wisata dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan tetap dalam pantauan pembimbing.  Tujuannya adalah untuk melihat kemampuan penerima manfaat dalam mematuhi norma, peraturan dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dan tempat wisata, sehingga para pekerja sosial dapat mengevaluasi sejauh mana efektivitas terapi yang telah diberikan.

Penulis :
Humas "Antasena" Magelang
Editor :
David Myoga

Bagikan :