Kuatkan Kompetensi Pegawai, Balai "Ciungwanara" Selenggarakan Pelatihan Terapi Seni

  • Kuatkan Kompetensi Pegawai, Balai "Ciungwanara" Selenggarakan Pelatihan Terapi Seni
  • 16142370173870
  • 16142370244776
  • 16142370134686

Penulis :
Humas Balai Disabilitas Ciungwanara Bogor
Editor :
Annisa YH
Penerjemah :
Karlina Irsalyana

BOGOR (24 Februari 2021) - Berkolaborasi dengan Art Therapy Center Widyatama, Kementerian Sosial melalui Balai Disabilitas "Ciungwanara" menyelenggarakan penguatan kompetensi pegawai dengan pelatihan art therapy. Pelatihan yang diikuti sebanyak 20 pegawai pemangku jabatan fungsional tertentu ini dilaksanakan di ruang rapat Balai Disabilitas Ciungwanara.

Acara tersebut dibuka langsung oleh Kepala Balai, Siti Sari Rumayanti. Dalam sambutannya, Sari mengungkapkan tujuan kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu memberikan pelayanan asistensi rehabilitasi sosial (ATENSI) yang prima dan up to date sehingga diperlukan skill untuk menghadapi kondisi tersebut.

"Saya harap bapak ibu dapat mengikuti dan menyerap dengan baik materi art therapy ini, sehingga kita selaku pelayan masyarakat dapat memberikan layanan ATENSI kepada para penerima manfaat," papar Sari.

Narasumber pertama adalah pendiri Art Therapy Centre Widyatama, Anne Nurfarina. Mengawali pelatihan, Ia menyampaikan bahwa terapi seni adalah proses pengekspresian diri.

"Tujuan utama terapi seni ini bukanlah pada hasil karya lukis, akan tetapi bagaimana hasil karya tersebut dapat mewakili perasaan penyandang disabilitas tersebut," tutur Anne.

Para pegawai kemudian mempelajari teknik-teknik dasar menggambar dan melukis dengan berbagai peralatan yang telah disediakan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan materi dari Dosen Poltekesos, Meiti Subardhini. Ia memaparkan mengenai peran pekerja sosial dalam proses manajemen kasus kepada penyandang disabilitas.
 
"Pekerja sosial dikhususkan sebagai ujung tombak dalam manajemen kasus dan bekerja sama dengan profesi lain terkait permasalahan penyandang disabilitas seperti psikososial, biologis/fisik/kesehatan, pendidikan, keterampilan kerja dan spiritual," papar Meiti. Ia juga menjelaskan mengenai beberapa model dan langkah-langkah dalam penatalaksanaan manajemen kasus.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dengan pegawai.
Bagikan :