Mensos Risma Belajar Membungkus Nasi dari Tagana

  • Mensos Risma Belajar Membungkus Nasi dari Tagana
  • WhatsApp Image 2021-03-31 at 11.36.48 (1)
JAKARTA (2 April 2021) - Menteri Sosial Tri Rismaharini mengaku belajar banyak dari Taruna Siaga Bencana (Tagana), termasuk ketika berkunjung ke Mamuju saat bencana gempa melanda. 

"Kemarin, waktu (kejadian gempa) di Mamuju, saya belajar membungkus nasi dari anak-anak Tagana. Ternyata, dalam keadaan darurat seperti itu, ngga perlu pake karet mestinya," ungkap Mensos saat memberikan arahan pada puncak acara HUT Tagana ke-17 yang disiarkan langsung melalui channel YouTube Linjamsos Oke baru-baru ini. 

Nanti, yang dari luar Jawa, dikatakan Mensos, mungkin bisa lebih banyak belajar. "Jadi, nanti kalo bungkus nasi, ngga perlu pake karet, nanti kalo karetnya habis, gimana cara bungkusnya," ujarnya mengantisipasi hal-hal kecil di lapangan kepada para personel Tagana.

"Ternyata ada teorinya, saya masih ingat, begini, begini, terus ini dimasukkan begini, ya," kata Risma sambil memeragakan cara membungkus nasi menggunakan kertas yang dipegangnya. 

Risma juga mengajak Tagana untuk terus belajar kepada sesama Tagana yang memiliki pengetahuan dalam bidang kebencanaan untuk mendorong percepatan kinerja Tagana saat terjadi bencana. 

"Ayo, kita saling belajar, memperdalam pengetahuan yang ada, supaya efisien, supaya lebih cepat kerjanya. Jadi, bisa membantu lebih banyak orang lagi," ajak mantan Walikota Surabaya dua periode itu.

Mensos mengatakan bahwa saat di lapangan mengatasi bencana, Tagana menjelma seperti masyarakat lainnya. "Kadang-kadang, kita tidak tahu apakah dia Tagana atau bukan. Nah, kalau udah pake seragam, kumpul begini, baru ketahuan," canda Risma.

Meski demikian, ia bersaksi bahwa Tagana bekerja nyata. "Tapi, saya adalah saksi bahwa mereka bergerak, mereka melakukan yang terbaik untuk masyarakat saat terjadi bencana. Saya adalah saksinya," tegas Mensos. 

Karena itu, sekali lagi, ia mengucapkan terima kasih kepada para personel Tagana di seluruh Indonesia, "Dirgahayu Tagana yang ke-17, usia yang sudah cukup dewasa. Mari kita buktikan dengan keberadaan Tagana, kita hidupkan kembali gotong royong," ucapnya.

"Saya tahu, bahkan (personel Tagana) ada yang usinya cukup tua. Saya juga nggak mentolo (red: tega) sebetulnya, saat saya suruh ngangkati tenda. Tapi, nggak papa, Bu, nggak papa, saya kuat, katanya. Meski tua, yang penting adalah semangatnya yang tetap muda," pungkas Mensos semangat dengan diakhiri yel-yel Tagana yang diikuti seluruh personel Tagana yang hadir di lokasi.

Penulis :
Alek Triyono (OHH Ditjen Linjamsos)
Editor :
David Myoga

Bagikan :