Terima Bantuan dari Kemensos dan Kitabisa, Pengobatan 6 Penderita Penyakit Berat di Sulawesi Berjalan Berkelanjutan

Terima Bantuan dari Kemensos dan Kitabisa, Pengobatan 6 Penderita Penyakit Berat di Sulawesi Berjalan Berkelanjutan
MAKASSAR (21 November 2022) – Tangis Amirah pecah. Suaranya terdengar hingga ke luar ruangan. Bayi mungil berusia 5 bulan itu terus menangis saat digendong Hawa -- ibunya, dalam duduknya. Bahkan, kedatangan Menteri Sosial Tri Rismaharini ke dalam ruangan itu, tak mengentikan tangisnya.

“Kenapa nangis, Nak? Coba carikan mainan untuk Amirah,” kata Mensos Risma kepada jajarannya saat mencoba menenangkan bayi mungil ini.

Tangisnya mulai mereda saat Mensos Risma menghiburnya dengan memperlihatkan mainan anak yang bisa berbunyi dan bergerak. Pandangan Amirah tak lepas dari mainan yang dipegang Mensos. Mainan itu pun, lantas, diserahkan Mensos kepada ibunya.

Bayi Amirah didiagnosa menderita Bronkopneumonia + GEA setelah 22 hari dilahirkan di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba. Bronkopneumonia, salah satu jenis pneumonia yang sering dialami anak, ialah peradangan pada saluran napas utama (bronkus) dan paru-paru akibat infeksi bakteri, virus, atau jamur.

Sejak kondisi Amirah termonitor melalui media, Kemensos telah merespon cepat. Selama perawatan Amirah, sang ibu mendapat dukungan dan pendampingan penuh dari Kemensos melalui Sentra “Wirajaya” di Makassar. 

Sentra membantu memberikan perlengkapan bayi, mulai dari popok bayi, kasur, pakaian, hingga minyak telon, dan beberapa perlengkapan mandi kepada bayi Amirah.

Selain itu, Sentra juga membantu mengakseskan identitas kependudukan dengan memasukkan bayi Amirah ke dalam KK, serta akses pengurusan Akta Kelahiran ke Disdukcapil.

Menurut penuturan ibunya, gejala awal bermula dari bayinya yang terus menerus batuk dan kerap mengalami sesak napas. “Saya membawanya ke dokter untuk diperiksa dan dirontgen. Dokter bilang infeksi paru-paru, terus dirawat di rumah sakit,” kata Hawa.

Sejak diinformasikan mengidap infeksi paru-paru, anak kedua dari pasangan Baso (53) dan Hawa (47) ini harus dirawat dan berobat secara intensif di rumah sakit.

Keluarga bayi kelahiran 30 Mei 2022 ini tergolong keluarga prasejahtera. Untuk membiayai pengobatan Amirah, Hawa hanya mengandalkan penghasilan dari suaminya yang bekerja sebagai TKI untuk buruh sawit di Malaysia.

Dengan penghasilan Rp2 juta setiap bulannya, sang suami hanya mampu berkirim uang bulanan kepada ibu Amirah sejumlah Rp500 ribu sampai Rp1 juta.

Bayi Amirah merupakan satu dari enam penderita penyakit berat yang menerima bantuan dari Kemensos dan donasi kitabisa.com dari orang-orang baik di Sentra “Wirajaya” di Makassar, Sabtu (19/11) kemarin.

“Terima kasih untuk rekan-rekan media, juga para pengguna media sosial yang menginformasikan kondisi anak-anak kita, adik-adik kita ini, sehingga kita bisa mengetahui, yang kemudian bisa kita tindaklanjuti dengan turun membantu,” kata Risma di Makassar, belum lama ini.

Karena keterbatasan Kemensos, dikatakan Risma, pihaknya menggandeng kitabisa.com untuk membantu menemukan donatur yang bersedia mengulurkan tangannya, mendukung pengobatan anak-anak penderita penyakit berat.

“Selain media, tentunya, kita ucapkan terima kasih juga kepada para donatur, orang-orang baik di luar sana, yang memberikan sumbangsihnya untuk anak-anak kita, adik-adik kita. Mudah-mudahan uluran tangan bapak/ibu/saudara diberi balasan berlipat ganda,” ucapnya mendoakan para donatur.

Selain paket kebutuhan bayi, Amirah mendapat bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), dan Bantuan Kewirausahaan berupa Wirausaha Ternak Ayam untuk ibu Amirah senilai Rp12.300.200. Sementara, hasil penggalangan dana dari donatur melalui platform kitabisa.com untuk Amirah mencapai Rp88.393.960.

Tak hanya Amirah, kelima penerima bantuan lainnya juga merupakan penderita penyakit berat. Kelimanya turut dihadirkan di Sentra “Wirajaya” di Makassar untuk menerima dua jenis bantuan serupa dari Kemensos dan kitabisa.com.

Dua di antaranya berada di bawah penanganan dan pendampingan Sentra “Gau Mabaji” di Gowa, yakni Annisa Muliadi (5), penderita jantung bocor di Palopo, Sulawesi Selatan. Ia menerima Bantuan ATENSI berupa Wirausaha Kuliner dan Wirausaha Kurir/Motor untuk orang tuanya senilai Rp28.442.830, dan donasi kitabisa.com senilai Rp77.139.226.

Satu lainnya, berasal dari Pangkep, Sulawesi Selatan, Fahreza Pratama Mulyadi (7), yang menderita tumor pada perut dan kelainan darah. Ia menerima Bantuan ATENSI berupa Wirausaha Becak Motor dan Biaya Rumah Sakit senilai Rp12.360.484, dan donasi kitabisa.com senilai Rp51.963.522.

Adapun, dua penderita penyakit berat berikutnya, berada di bawah penanganan dan pendampingan Sentra “Nipotowe” di Palu. Mereka adalah Adinda Arwanti (8) dan Muhammad Renaldi (4).

Adinda diketahui mengidap paru-paru, batuk TBC, hingga pembengkakan pada tulang belakang (Sponditilis Tubercolosis) di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Ia menerima Bantuan ATENSI, Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), dan Bantuan Kewirausahaan senilai Rp46.900.000, serta donasi kitabisa.com senilai Rp41.520.381.

Sedangkan, Muhammad Renaldi merupakan anak berkebutuhan khusus (tuna netra), penderita pembengkakan paha sebelah kanan yang didiagnosa tumor di Majene, Sulawesi Barat. Ia menerima Bantuan ATENSI, Bantuan RTLH, dan Bantuan Kewirausahaan senilai Rp45.825.500, serta donasi kitabisa.com senilai Rp106.616.218.

Sementara itu, penerima bantuan keenam, berada di bawah penanganan dan pendampingan Sentra “Pangurangi” di Takalar, yaitu Riswan (29), penderita Paraplegia asal Takalar, Sulawesi Selatan.

Ia mengalami kelumpuhan pada anggota tubuhnya, mulai dari bagian panggul ke bawah akibat kecelakaan yang dialaminya 2 tahun silam. Dari donasi kitabisa.com, Riswan menerima Rp72.464.412 dan Bantuan ATENSI senilai Rp17.500.000.

Biro Hubungan Masyarakat
Kementerian Sosial RI

Penulis :
Alif Mufida Ulya

Bagikan :